Takwa yang Dinilai, Bukan Darah dan Daging: Membaca Hakikat Kurban, Sedekah, dan Rahmat Allah

whatsapp image 2026 05 30 at 10.40.14 am

Hamzah | Dosen Pascasarjana IAIN Parepare

Usai pelaksanaan shalat Idul Adha, umat Islam kembali dihadapkan pada salah satu ibadah simbolik yang sangat kuat dalam tradisi Islam, yaitu kurban. Namun, sebagaimana ibadah lainnya, kurban tidak berhenti pada aspek ritual dan formalitas penyembelihan semata. Ada pesan spiritual yang jauh lebih dalam yang kerap luput dari perhatian: bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah dan daging yang dipersembahkan, melainkan pada kualitas ketakwaan yang menyertainya.

Allah SWT secara tegas menegaskan:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini mendudukkan kembali orientasi ibadah kurban pada posisi yang benar. Allah tidak membutuhkan materi persembahan manusia. Yang menjadi perhatian Tuhan adalah apa yang bekerja di dalam hati manusia: keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, dan takwa.

Dalam konteks ini, kurban sesungguhnya merupakan pendidikan spiritual tentang bagaimana manusia belajar melepaskan sebagian yang dicintainya demi mendekat kepada Allah. Sebab kata kurban (قربان) sendiri berasal dari akar kata قرب yang bermakna dekat. Maka kurban bukan semata aktivitas menyembelih, tetapi proses mendekatkan diri kepada Allah melalui pengorbanan Namun, ketakwaan yang menjadi ruh kurban tidak dapat dipisahkan dari dimensi lain yang sangat fundamental dalam Islam, yakni syukur.

Di awal khutbah Jumat yang saya sampaikan di Masjid Raya Kota Parepare pada Jumat, 29 Mei 2026, saya mengajak jamaah untuk menjaga kesadaran syukur, baik dalam urusan ibadah maupun muamalah kehidupan sehari-hari. Sebab, salah satu karakter utama seorang mukmin adalah kemampuan melihat nikmat Allah bahkan pada hal-hal yang sering dianggap biasa.

Ketika Sayyidah Aisyah r.a. pernah bertanya tentang mengapa Rasulullah SAW begitu tekun beribadah hingga kaki beliau bengkak, padahal dosa beliau telah diampuni, Rasulullah menjawab:

أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا “Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang senantiasa bersyukur?”

Jawaban singkat ini mengandung pelajaran besar. Ibadah bukan hanya lahir dari rasa takut terhadap hukuman atau harapan terhadap pahala, tetapi juga tumbuh dari kesadaran syukur atas limpahan nikmat Allah.

Kurban pun demikian. Tidak semua orang mampu berkurban, tetapi bagi mereka yang diberi keluasan rezeki dan kesempatan untuk melaksanakannya, kurban seharusnya dibaca sebagai ekspresi syukur kepada Allah. Meski demikian, Islam juga mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya amal ibadah yang dilakukan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga hanya karena amalnya semata. Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadaku.”

Hadis ini mengajarkan keseimbangan penting dalam beragama. Amal tetap penting, ibadah tetap wajib, kebajikan tetap harus diupayakan. Namun, pada akhirnya yang menjadi penentu keselamatan manusia adalah rahmat dan ridha Allah SWT.

Karena itu, sejarah Islam memperlihatkan banyak kisah yang menunjukkan luasnya kasih sayang Tuhan. Kita mengenal kisah seorang perempuan pezina yang mendapatkan ampunan dan masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Kita juga mengenal kisah seorang pembunuh seratus jiwa yang mencari pintu taubat, lalu Allah membukakan baginya jalan ampunan.

Kedua kisah tersebut menunjukkan bahwa rahmat Allah mampu melampaui dosa besar manusia ketika ada keikhlasan, penyesalan, dan kehendak untuk berbuat baik.

Hal ini semakin dipertegas oleh sabda Rasulullah SAW tentang rahmat Allah:

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu rahmat diturunkan ke bumi yang dengannya seluruh makhluk saling menyayangi, sementara sembilan puluh sembilan rahmat lainnya disimpan untuk hari akhir.”

Hadis ini membangun optimisme spiritual bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada yang sering dibayangkan manusia. Akan tetapi, rahmat itu bukan alasan untuk menunda amal saleh.

Dalam khutbah tersebut, saya kemudian menghubungkan spirit kurban dengan firman Allah dalam QS. Al-Munafiqun ayat 10:

وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ…

“Infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian…”

Salah satu frasa penting dalam ayat ini adalah kata “مِنْ قَبْلِ” (min qabli) yg berarti “sebelum”.

Kata ini memberi pesan yang sangat mendalam: kesempatan beramal itu terbatas. Ada tenggat waktu bagi manusia untuk memberi, berbagi, berinfak, dan berbuat baik. Hari ini tangan masih mampu bersedekah, hari ini tubuh masih mampu bersujud, hari ini lidah masih mampu berzikir. Tetapi akan datang satu masa ketika kesempatan itu tertutup selamanya.

Menariknya, Al-Qur’an menggambarkan bahwa ketika kematian datang, manusia tidak meminta tambahan waktu untuk menambah aset, memperluas bisnis, atau memperbesar kekuasaan.

Yang diminta justru:

رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau memberi aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah.”

Mengapa sedekah? Karena pada saat itu manusia mulai menyadari bahwa ada harta yang habis dikonsumsi, ada harta yang diwariskan, tetapi ada pula harta yang berubah menjadi bekal keselamatan.

Dalam tradisi hikmah para ulama terdapat ungkapan yang dinisbatkan kepada al-Balkhiy:

طَلَبْتُ السَّعَةَ فَوَجَدْتُهَا فِي الصَّدَقَةِ

“Aku mencari kelapangan hidup, maka aku menemukannya dalam sedekah.”

Dan dalam ungkapan lain:

وَطَلَبْتُ سُهُولَةَ الْعُبُورِ عَلَى الصِّرَاطِ فَوَجَدْتُهَا فِي الصَّدَقَةِ

“Aku mencari kemudahan meniti shirath, maka aku menemukannya dalam sedekah.”

Sedekah, dalam perspektif ini, bukan sekadar transaksi sosial antara yang memiliki dan yang membutuhkan. Sedekah adalah pendidikan jiwa, latihan melepaskan keterikatan terhadap harta, sekaligus investasi akhirat.

Pesan tersebut memiliki resonansi kuat dengan surah yang sangat pendek tetapi sangat padat makna, yakni QS. Al-‘Ashr.

Allah bersumpah demi waktu:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ…

Mayoritas manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh.

Di sini, waktu kembali menjadi kata kunci. Amal saleh tidak bisa ditunda tanpa batas. Kebaikan memiliki masa aktifnya sendiri. Dan salah satu pelajaran besar dari frasa “مِنْ قَبْلِ” dalam QS. Al-Munafiqun adalah bahwa berbuat baik itu memiliki deadline: sebelum ajal datang menjemput.

Karena itu, pada bagian akhir khutbah, saya menyampaikan rasa syukur dan penghormatan kepada mereka yang telah melaksanakan kurban. Sebab dalam banyak hal, kurban dapat dipahami sebagai salah satu bentuk tertinggi bahkan puncak dari sedekah. Ia bukan sekadar pengorbanan material tetapi juga moril dan emosional. Ia juga bukan sekadar memberi dari yang tersisa, tetapi memberi melalui pengorbanan yang sadar, disengaja, dan dilandasi niat mendekat kepada Allah.

Pada akhirnya, kurban mengajarkan bahwa jalan menuju Allah dibangun oleh syukur, ditopang oleh amal saleh, diterangi oleh sedekah, dan pada puncaknya hanya dapat disempurnakan oleh rahmat serta ridha-Nya. Sebab yang akan sampai kepada Allah bukan darah, bukan daging, bukan besarnya persembahan kita melainkan ketakwaan yang hidup di dalam hati kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *