Menyikapi Fenomena ‘Flexing’ di Media Sosial

featured image 8

Media sosial telah mengubah cara manusia menampilkan dirinya kepada publik. Dahulu kehidupan seseorang hanya diketahui oleh lingkungan terdekat, tetapi kini aktivitas pribadi dapat dipertontonkan kepada ribuan bahkan jutaan orang. Makanan yang dikonsumsi, tempat yang dikunjungi, kendaraan yang digunakan, pakaian yang dikenakan, hingga kondisi finansial dapat dipresentasikan melalui layar. Dalam konteks inilah fenomena flexing atau pamer kekayaan menjadi semakin mudah ditemukan.Fenomena tersebut sebenarnya tidak selalu sederhana. Ada orang yang menampilkan keberhasilan sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atau dokumentasi perjalanan hidup. Namun, persoalan muncul ketika kehidupan yang ditampilkan secara terus-menerus menciptakan kesan bahwa nilai seseorang ditentukan oleh jumlah harta, kemewahan, dan gaya hidup yang dapat dipertontonkan.Media sosial pada dasarnya hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan realitas. Seseorang dapat memperlihatkan mobil mewah tetapi tidak menunjukkan kewajiban finansial yang dimilikinya. Seseorang dapat menunjukkan perjalanan ke berbagai tempat tetapi tidak memperlihatkan tekanan hidup yang mungkin sedang dialaminya. Inilah yang membuat media sosial dapat menciptakan ilusi kehidupan yang sempurna.Generasi muda sangat rentan terhadap persoalan tersebut karena mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang penuh dengan perbandingan sosial. Ketika setiap hari melihat orang lain menampilkan keberhasilan, seseorang dapat merasa bahwa dirinya tertinggal. Perasaan tersebut dapat mendorong perilaku konsumtif dan keinginan untuk mengejar standar hidup yang sebenarnya tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi.Persoalan terbesar bukan pada kemewahan itu sendiri. Memiliki harta, menikmati hasil kerja, atau mencapai keberhasilan ekonomi bukan sesuatu yang salah. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika ukuran keberhasilan hanya ditentukan oleh apa yang terlihat. Kekayaan yang tidak disertai tanggung jawab dapat kehilangan makna sosialnya.Pendidikan literasi finansial menjadi semakin penting. Anak muda perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, aset dan kewajiban, pendapatan dan kekayaan, serta konsumsi produktif dan konsumsi yang hanya didorong oleh tekanan sosial. Pemahaman tersebut akan membantu mereka mengambil keputusan finansial dengan lebih rasional.Keluarga dan institusi pendidikan juga perlu mengajarkan bahwa keberhasilan memiliki banyak bentuk. Kemampuan belajar, kesehatan hubungan sosial, integritas, kontribusi kepada masyarakat, kreativitas, dan ketekunan merupakan bagian dari keberhasilan yang tidak selalu terlihat dalam foto atau video media sosial.Media sosial seharusnya menjadi alat untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan inspirasi, bukan arena untuk membandingkan nilai diri. Kita perlu belajar bahwa tidak semua yang terlihat harus dimiliki dan tidak semua yang dipamerkan harus dipercaya.Pada akhirnya, masyarakat perlu membangun budaya yang lebih menghargai proses daripada penampilan. Kesuksesan yang dibangun bertahun-tahun mungkin tidak selalu menarik secara visual, tetapi memiliki fondasi yang lebih kuat. Generasi muda harus didorong untuk mengejar kompetensi, karakter, kemandirian, dan kontribusi, bukan sekadar citra kesuksesan yang dibangun untuk mendapatkan pengakuan di media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *