Oleh: Yona Khabib Zakariya | Alumni Universitas Islam Makassar
Bangsa berhutang kepada buku. Lembar demi lembar buku dibuka. Pengetahuan diserap dan dikembangkan untuk memperbaiki kesalahan dan kegagalan yang pernah terjadi di masa lampau. Buku-buku dibuka dan dipelajari untuk membentuk sejarah baru tanpa kecacatan pembentukan sebuah bangsa. Bangsa menghasilkan buku-buku baru untuk terus menjadikan negara ini menjadi negara yang maju.
Buku menjadi pilar yang menyangga ideologi bangsa. Buku-buku dicetak dan dibaca agar bangsa tidak lagi menjadi tempat jajahan ideologi-ideologi bangsa lain. Buku selalu berperan agar bangsa tetap utuh dan memiliki persatuan. Dalam buku Ideologi Saya Adalah Pramis (2016), Muhidin M Dahlan merasakan bahwa buku yang mengembangkan dan memajukan sistem pemerintahan yang dijalani oleh bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang merdeka. Menurutnya, buku memiliki umur yang panjang dan tidak akan pernah mati. Buku menjadi sebuah arsip. Dan arsip itulah yang nantinya akan dibaca oleh bangsa penerusnya untuk diilhami kemenangan dan kekalahannya.
Disini kita dapat menduga, Muhidin memaknakan buku sebagai alat untuk mempertahankan kemenangan bangsa. Kesalahan dan kegagalan dalam sejarah yang tertulis dalam buku diharap akan diperbaiki menjadi lebih baik. Dengan begitu bangsa tidak akan melakukan kesalahan yang sama atas apa yang terjadi dalam sejarah bangsa ini. Dengan buku, bangsa akan tahu ideologi yang dimaksud oleh pendiri-pendiri bangsa ini. Buku juga mencontohkan bagaimana peran para pemimpin yang pernah hidup dijaman terdahulu.
Buku menyimpan tujuan-tujuan didirikannya bangsa. Buku menjadi sangat penting dalam memahami perkembangan dan pengetahuan yang semakin maju. Tanpa buku, bangsa akan bodoh dan hancur. Dengan begitu bangsa akan dijajah dan jadi pengikut dari bangsa lain. Seperti yang dikatakan Milan Kundera, novelis eksil Ceko : “Untuk menghancurkan sebuah bangsa, bumi hanguskan buku-bukunya. Niscaya bangsa itu akan lupa. Dan sa’at itulah ia akan hancur”.
Buku menjadi salam perkenalan. Buku membimbing sukarno untuk berkenalan dengan bangsa lain. Dari perkenalan itu, soekarno berhasil mendapatkan ideologi-ideologi untuk membentuk sebuah bangsa. Sa’at soekarno masih berumah dan menjadi murid H.O.S Cokroaminoto, soekarno diberi buku-buku. Buku yang menemani dalam membentuk jiwa kepemimpinan soekarno. Buku yang ada di perpustaka’an milik perkumpulan teosofi, menjadi sahabat soekarno. Buku menjadi perantara soekarno untuk berpikir dan bercakap-cakap dengan para pemikir di seluruh dunia. Soekarno berkata : “Di dunia pemikiranku aku pun bercakap-cakap dengan Perdana menteri Gladstone dari Britannia sebagaimana Sidney dan Beatrice Webb; aku berbicara berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia; Otto Bauer dan Adler dari Austria; Karl Marx, Friedrich Engels dan Lenin, dan aku mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau, Aristide Briand dan Jean Jaures, ahli pidato terbesar dalam sejarah prancis.” Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia ( C. Adams, 2014).
Kita dicontohkan oleh soekarno untuk bergelut dengan buku. Membaca menjadikan kita tau bagaimana bentuk kedaulatan sebenarnya dari sebuah negara. Buku memberikan soekarno sebuah ruang pemikiran untuk membentuk sebuah bangsa. Buku menyampaikan tujuan dan cara membentuk bangsa melalui soekarno. Dan mungkin, tanpa buku tidak ada yang namanya bangsa yang terbentuk atas soekarno.
Dewasa ini, kita disuguhi keadaan yang mengkhawatirkan. Di tempat-tempat umum, di sekolah, di rumah-rumah, bangsa kita tidak lagi bersahabat dengan buku. Buku dianggap terlalu klasik dan kuno. Perpustakaan sebagai tempat berumahnya buku tidak lagi ramai dan terawat. Buku menjadi dilupakan oleh bangsa ini. Orang yang berbuku dianggap sok pintar. Orang yang berbuku dianggap sebagai orang yang tidak menyenangkan. Buku menjadi salah satu alasan untuk melecehkan. Hal ini menjadi alasan para pelajar untuk mulai menjauh dari buku.
Bangsa ini telah teracuni oleh teknologi. Teknologi merambah mengambil alih pembelajaran melalui buku. Sebut saja google search dan yang lainnya, menjadi alternatif yang dipilih karena dianggap lebih mudah digunakan. Perangkat teknologi menjadi perkara yang mudah dan cepat serta bisa diakses melalui gawai. Gawai menjadi bahan yang harusnya diperbincangkan. Gawaimengambil alih bangsa yang harusnya berbuku, menjadi bergawai. Gawai menjajah pemikiran para murid dan mahasiswa untuk bergelut dengan buku. Gawai yang harusnya hanya menjadi alat untuk menunjang dan membantu pembelajaran berbuku, menjadi alat utama untuk dipelajari dan digunakan belajar. Buku pun disingkirkan.
Hal ini menjadi tolak ukur tidak adanya pemimpin-pemimpin berpikiran seperti soekarno maupun lainnya. Buku yang menjadi landasan pemikiran itu tidak lagi dipakai dan mulai dijauhi. Dalam pembelajaran di sekolah-sekolah pun tidak ada pengarahan untuk mempelajari buku-buku selain buku materi dalam sekolah. Ini menjadikan pandangan bangsa tentang buku menjadi surut. Dan tidak mungkin jika bangsa ini akan menjadi bangsa yang dijajah. Buku yang ada disekolah yang tidak memuat bagaimana cara berpikir dan pemikiran apa yang sudah dituangkan oleh pemimpin kita terdahulu tidak pernah diajarkan disekolah. Buku-buku yang keluar dari materi sekolah menjadi tidak penting untuk dipelajari, karena tidak menunjang pendidikan yang menjadi standart kurikulum bangsa.
Bangsa ini menjadi bangsa yang dijajah secara tidak sadar oleh modernisasi. Dan bagusnya bangsa ini bangga. Kita bangga menjadi manusia yang tidak berbuku, asalkan kita menjadi bangsa yang paling menggunakan dan merasakan kemajuan teknologi. Kita menjadi salah satu bangsa yang paling banyak menggunakan peran teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari belajar sampai bekerja, teknologi selalu menemani. Tidak pernah ada pekerja’an maupun pembelajaran yang mengharuskan buku untuk selalu dipegang dan diajarkan. Kita selalu merasa menikmati teknologi tanpa mau merasakan kenikmatan berbuku.
Kita lupa, bahwa teknologi juga pernah dicatat dan dibukukan untuk menciptakannya. Kita hanya merasa senang dan bahagia dengan cukup menikmati teknologi itu. Kita tidak pernah merasa sadar untuk mempelajarinya dalam buku-buku lalu menciptakannya. Kita bangga menjadi bangsa yang menikmati, tanpa pernah mau bersusah-susah mempelajari dan menciptakan kemajuan seperti itu. Eh iya. Bagaimana kita mau menciptakan kemajuan. Kita kan bangsa yang malas berbuku.
