WhatsApp Image 2026 05 16 At 7.47.11 AM 819x1024

Pintu yang Selalu Terbuka, Hati yang Selalu Mendengar

Oleh: Islamul Haq
Pendiri El-Haq Global Academic

WhatsApp Image 2026 05 16 At 7.47.11 AM 819x1024

​“Pemimpin itu melayani, bukan dilayani.” Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin hanya sekadar slogan manis di atas baliho atau materi pidato yang usang. Namun, bagi Prof. Hannani, kalimat tersebut adalah napas kepemimpinannya. Di saat banyak orang memandang jabatan sebagai sarana untuk dihormati, dijaga jaraknya, dan diperlakukan istimewa dengan protokoler yang kaku, beliau justru menjadikan kursi rektor sebagai jalan untuk meluruhkan sekat dan mendekat kepada manusia.

​Ketika beliau menjabat, ruang kerjanya bukan sekadar kantor administrasi yang dingin dan sunyi. Ruangan itu hidup. Pintunya hampir selalu terbuka, seolah-olah mengundang siapa pun untuk masuk tanpa rasa sungkan. Dari pagi hingga sore bahkan kadang sampai larut malam, orang datang silih berganti membawa beragam beban di pundak mereka. Ada mahasiswa yang butuh arah, dosen yang ingin berdiskusi, hingga masyarakat umum yang datang membawa keluh kesah ekonomi atau sekadar ingin didengarkan. Di sana, jabatan rektor tidak membuat beliau merasa terlalu tinggi untuk menunduk dan menyimak masalah-masalah kecil.

​Ruangan beliau sering kali berubah fungsi mengikuti denyut kebutuhan tamu yang datang. Kadang ia menjadi ruang mediasi yang tenang bagi pasangan yang hampir bercerai, kadang menjadi ruang konsultasi penuh air mata, dan di waktu lain berubah menjadi tempat orang memohon doa ketika sedang didera sakit. Mungkin bagi sebagian orang, meladeni urusan di luar tugas pokok itu melelahkan. Namun, bagi Prof. Hannani, jabatan bukanlah singgasana untuk membangun jarak, melainkan amanah untuk hadir tepat di titik di mana manusia membutuhkan pertolongan.

​Hari ini, kita hidup di zaman ketika sebagian pemimpin lebih sulit ditemui daripada tokoh-tokoh besar dunia. Pintu kantor mereka berlapis-lapis, ajudan berjejer rapat, dan jadwal selalu penuh dengan alasan. Kadang, masyarakat hanya bisa melihat senyum pemimpinnya di baliho jalanan, tanpa pernah benar-benar bisa mengetuk pintu hatinya. Prof. Hannani memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak membangun dinding; beliau membangun jembatan. Ruangannya ramai bukan karena orang takut pada kekuasaannya, melainkan karena orang merasa diterima dan dimanusiakan.

​Beliau menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak harus selalu tampak hebat di atas podium dengan kata-kata yang menggelegar. Kadang, kepemimpinan justru terlihat dari kesabaran seseorang dalam mendengar masalah paling remeh sekalipun. Di saat sebagian orang mulai mabuk hormat senang disambut, dipuji, dan dilayani Prof. Hannani justru sibuk memastikan siapa lagi yang bisa dibantu. Beliau tidak peduli dengan kemegahan seremonial, karena fokusnya adalah pada pengabdian yang nyata.

​Beliau mengajarkan satu pelajaran penting: bahwa kehormatan jabatan bukan diukur dari berapa banyak orang yang berdiri menyambut kehadiran kita. Sebaliknya, kemuliaan itu diukur dari berapa banyak orang yang pulang dengan hati yang jauh lebih tenang setelah bertemu dengan kita. Itulah mengapa banyak orang tidak sekadar mengenang beliau sebagai seorang mantan rektor, tetapi sebagai manusia tulus yang menghabiskan waktunya untuk melayani sesama dengan hati yang utuh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *