WhatsApp Image 2026 05 15 At 9.28.43 AM 1 888x1024

Kursi yang Berpindah, Hati yang Tetap Teduh

Oleh: Islamul Haq
Pembina El-Haq Global Academic

WhatsApp Image 2026 05 15 At 9.28.43 AM 1 888x1024

Di tengah dunia akademik dan hiruk-pikuk jabatan yang sering kali dipenuhi persaingan sengit, ada satu hal yang kini jauh lebih langka daripada gelar profesor: yaitu hati yang benar-benar lapang. Fenomena ini saya saksikan sendiri pada sosok Kiyai Prof. Hannani. Saya masih ingat betul ketika keputusan rektor keluar dan ternyata bukan nama beliau yang terpilih. Dalam logika manusia biasa, keadaan seperti itu adalah resep sempurna untuk melahirkan kekecewaan mendalam. Apalagi bagi seseorang yang memiliki kapasitas intelektual mumpuni, pengalaman manajerial yang matang, serta dukungan luas dari berbagai lapisan, kegagalan biasanya menjadi pil pahit yang sulit ditelan.

​Bayangkan saja, beliau adalah sosok dengan tumpukan prestasi yang tidak main-main; mulai dari rekam jejak kepemimpinan yang progresif, publikasi ilmiah yang diakui, hingga keberhasilannya membawa lembaga meraih berbagai rekognisi prestisius. Dengan modal segudang pencapaian dan pengaruh sebesar itu, sangat wajar jika secara manusiawi muncul perasaan bahwa tongkat estafet kepemimpinan seharusnya tetap berada di tangan beliau. Biasanya, setelah berada di puncak prestasi namun tidak terpilih kembali, orang akan mulai menjaga jarak, menyimpan sakit hati, atau minimal sulit menerima kenyataan bahwa panggung tak lagi miliknya.

​Namun, yang saya temukan justru sebuah anomali yang menyejukkan. Ketika saya berkunjung ke rumah beliau untuk melihat bagaimana sikapnya menghadapi badai itu, saya justru belajar tentang kebesaran jiwa yang sesungguhnya. Tidak ada amarah, tidak ada telunjuk yang menyalahkan siapa pun, dan tidak ada narasi kekecewaan yang ditebar ke pengikutnya. Beliau sama sekali tidak mengajari orang untuk membenci. Kalimat yang keluar dari lisan beliau justru sebuah instruksi yang berat bagi ego manusia: “Bantu Rektor IAIN Parepare siapa pun itu, demi kemaslahatan lembaga.” Kalimat ini terdengar sederhana, namun faktanya banyak orang sanggup tersenyum lebar saat menang, tetapi hanya segelintir yang tetap tulus ketika kursi impian tidak lagi dalam genggaman.

​Beliau sering menasihati agar kita jangan pernah merasa terlalu memiliki sebuah jabatan. Sebab, ketika seseorang mulai berbisik dalam hati bahwa “ini milikku”, di situlah benih kekecewaan besar tertanam saat Allah mengambilnya kembali. Jabatan pada hakikatnya hanyalah titipan; hari ini di tangan kita, besok bisa berpindah ke orang lain dengan sangat mudah. Sering kali, mereka yang paling menderita saat kehilangan kursi adalah mereka yang terlalu dalam menggenggam rasa memiliki, seolah tanpa jabatan itu mereka kehilangan harga diri. Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian orang berubah total setelah lengser; mereka menjauh, sulit menerima keadaan, bahkan ada yang diam-diam berdoa agar lembaga yang pernah dipimpinnya gagal total hanya demi membuktikan bahwa “aku lebih baik daripada penggantiku.”

​Sungguh menggelitik melihat betapa banyak orang yang menganggap kejujuran dan keikhlasan sebagai sebuah kelainan di zaman ini. Di saat orang lain sibuk “membalas dendam” lewat sabotase halus atau sinisme, Prof. Hannani justru menunjukkan bahwa lembaga harus tetap berjalan meskipun tanpa dirinya. Beliau memandang jabatan dengan prinsip jama-jamang lino mi—bahwa segala urusan kedudukan, fasilitas, dan tumpukan prestasi ini hanyalah urusan dunia yang fana, sebuah permainan sebentar yang tidak layak dibawa mati. Baginya, bekerja adalah tentang lillah, karena Allah semata, sehingga ketika panggungnya berganti, beliau tetap tenang karena penonton yang ia cari ridanya bukanlah manusia, melainkan Sang Pencipta.

​Ketika saya bertanya tentang rahasia ketenangan hatinya, beliau memberikan jawaban yang sampai hari ini terus terngiang: “Setiap malam sebelum tidur, jangan ada dendam di dalam hatimu. Maafkan semua orang.” Nasihat ini terasa sangat satir jika dihadapkan pada realita kita hari ini. Banyak orang yang hebat dalam urusan ibadah ritual, mampu berceramah panjang lebar tentang kesabaran, namun mendadak gagal total saat harus memaafkan mereka yang dianggap menghalangi jalan kekuasaannya. Prof. Hannani membuktikan bahwa seseorang bisa turun dari kursi kepemimpinan tanpa kehilangan kemuliaan sedikit pun, karena beliau memang tidak pernah menggenggam dunia di hatinya, melainkan hanya meletakkannya di ujung jari agar mudah dilepaskan kapan saja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *