Oleh: Islamul Haq
Pembina El Haq Global

Kita sudah terlalu sering menyaksikan pola yang klise: seseorang datang dengan kendaraan biasa, lalu pulang dalam iring-iringan kemewahan. Rumah bertambah, tanah meluas, dan angka di rekening menebal seolah kursi jabatan bukanlah sebuah amanah, melainkan proyek investasi masa depan yang harus dipanen habis-habisan. Di tengah hiruk-pikuk keserakahan itulah, sosok seperti Kiyai Prof. Hannani terasa begitu langka, hampir seperti oase di tengah padang yang gersang. Beliau hadir membawa standar moral yang berbeda, mengingatkan kita bahwa kehormatan tidak selalu berbanding lurus dengan tumpukan materi.
Sebelum dilantik menjadi rektor, beliau sudah memiliki mobil dan kehidupan yang mapan. Beliau masuk ke ruang kepemimpinan dengan kecukupan, membawa nama baik serta kehormatan yang sudah terjaga sejak awal. Artinya, beliau datang bukan untuk mencari hidup atau menggantungkan nasib pada fasilitas negara. Beliau adalah pribadi yang sudah selesai dengan dirinya sendiri sebelum mengemban tanggung jawab besar tersebut. Namun, hal yang membuat banyak orang terdiam dan merenung bukanlah apa yang beliau miliki saat menjabat, melainkan kesahajaan yang beliau tunjukkan setelah masa tugas itu usai.
Di saat sebagian orang mendadak hidup bak konglomerat baru pasca-jabatan, Prof. Hannani justru pulang dengan sebuah motor. Iya, hanya sebuah motor. Fenomena ini seolah menjadi pesan sunyi bahwa bagi beliau, jabatan benar-benar dipahami sebagai pengabdian, bukan kesempatan untuk menyulap fasilitas negara menjadi aset pribadi. Inilah kemewahan yang mulai punah di zaman sekarang: seseorang yang masuk jabatan membawa harta sendiri, lalu keluar tanpa membawa tambahan yang mencurigakan. Beliau membuktikan bahwa integritas adalah tentang apa yang tidak kita ambil, meski kita punya kuasa untuk melakukannya.
Memang aneh melihat ada pejabat yang hartanya tidak meledak setelah berkuasa; bukankah zaman sekarang kejujuran dianggap sebagai sebuah “kelainan”? Di saat banyak orang merasa gagal jika tidak bisa memamerkan rumah bak istana setelah menjabat, Prof. Hannani justru membuat masyarakat bingung karena pulang dengan tangan yang “terlalu bersih”. Kita telah sampai pada titik di mana seseorang yang tidak korupsi dianggap mengejutkan, sementara mereka yang memamerkan aset hasil “sulap” pengabdian dianggap sebagai orang yang sukses dan pandai mencari peluang.
Rupanya, beliau sangat memahami prinsip jama-jamang lino mi: bahwa segala urusan jabatan, fasilitas, dan gemerlap dunia hanyalah sekadar “permainan” dunia yang fana. Bagi beliau, kursi rektor bukanlah panggung untuk membangun dinasti kekayaan, melainkan ladang untuk sekadar mampir bekerja sebentar sebelum kembali ke hakikat kesederhanaan. Dunia hanya diletakkan di tangan, bukan di hati, sehingga saat jabatan itu lepas, beliau tidak merasa kehilangan apa-apa selain beban tanggung jawab yang berat.
Segala gerak-gerik beliau dikunci oleh satu niat: bekerja lillah, karena Allah semata. Ketika seseorang bekerja demi mencari wajah Tuhan, maka pujian manusia dan tumpukan harta tidak lagi memiliki daya tarik yang menyilaukan. Beliau lebih takut pada audit akhirat daripada takut terlihat miskin di mata manusia. Prof. Hannani telah mengajarkan kita bahwa kekuasaan bisa berakhir dengan tenang, asalkan sejak awal kita tidak pernah berniat memilikinya secara rakus. Beliau pulang dengan motor kesahajaannya, namun membawa nama yang jauh lebih harum daripada parfum mahal para pemburu dunia.
