Oleh: Dr. H. Abdillah, Lc., M.H.I. | Dosen IAIN Parepare
Sejarah Islam di Tanah Mandar menyimpan perjalanan panjang yang tidak selalu ditemukan dalam buku-buku sejarah nasional. Di balik perkampungan tua, masjid bersejarah, dan makam para ulama, terdapat kisah tentang bagaimana ajaran Islam tumbuh melalui hubungan antara kerajaan, masyarakat, dan tokoh-tokoh agama. Kabupaten Majene menjadi salah satu wilayah penting untuk membaca perjalanan tersebut. Kawasan Banggae, Salabose, hingga jaringan ulama yang terhubung dengan wilayah Tinambung memperlihatkan bahwa perkembangan Islam di Mandar tidak dapat dipisahkan dari peran kekuasaan lokal dan tradisi keilmuan masyarakat.
Sebagai orang Mandar yang menekuni kajian hukum Islam dan pendidikan tinggi, saya melihat peninggalan sejarah keagamaan bukan sekadar warisan masa lalu. Setiap situs menyimpan pengetahuan tentang bagaimana masyarakat menerima perubahan, membangun otoritas keagamaan, dan mempertahankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Membaca sejarah Majene berarti memahami proses terbentuknya sebuah masyarakat yang menjadikan agama sebagai bagian dari identitas sosial dan kebudayaannya.
Kerajaan Banggae memiliki kedudukan penting dalam perjalanan sejarah Mandar. Kerajaan ini merupakan bagian dari persekutuan Pitu Ba’bana Binanga, tujuh kerajaan yang berada di kawasan pesisir. Hubungan antarkerajaan tersebut memperlihatkan adanya tradisi pemerintahan, diplomasi, dan kerja sama yang telah berkembang sebelum terbentuknya wilayah administratif modern. Dalam perkembangannya, penerimaan Islam oleh lingkungan kerajaan turut memengaruhi kehidupan keagamaan masyarakat.
Kompleks makam raja-raja Banggae menjadi salah satu peninggalan yang memperlihatkan hubungan antara kekuasaan dan perkembangan Islam. Makam-makam tersebut bukan hanya tempat peristirahatan para penguasa, tetapi juga sumber sejarah yang dapat digunakan untuk menelusuri perubahan sosial dan keagamaan. Bentuk nisan, susunan makam, serta tradisi penghormatan terhadap leluhur memberikan petunjuk mengenai perkembangan kebudayaan masyarakat. Meski demikian, penafsiran sejarahnya tetap memerlukan dukungan sumber tertulis, kajian arkeologi, dan tradisi lisan yang diuji secara kritis.
Salah satu kawasan yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam Majene adalah Salabose. Perkampungan tua ini dikenal memiliki hubungan erat dengan penyebaran Islam di lingkungan Kerajaan Banggae. Keberadaan Masjid Kuno Salabose menjadi penanda bahwa masjid sejak dahulu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, musyawarah, dan pembentukan kehidupan sosial masyarakat.
Dalam tradisi sejarah setempat, Syekh Abdul Mannan dikenal sebagai salah seorang tokoh yang berperan dalam perkembangan Islam di Banggae dan Salabose. Kehadirannya memperlihatkan bagaimana penyebaran agama berlangsung melalui hubungan antara ulama dan masyarakat. Dakwah tidak semata-mata disampaikan melalui pengajaran, tetapi juga melalui pendekatan sosial yang memungkinkan nilai-nilai keislaman diterima dalam kehidupan masyarakat setempat.
Kajian arkeologis mengenai jejak ulama Mandar menunjukkan bahwa peninggalan makam para penyebar Islam di Majene merupakan sumber penting untuk merekonstruksi sejarah keagamaan daerah. Namun, kisah mengenai asal-usul, perjalanan dakwah, dan masa hidup seorang tokoh perlu dibedakan antara keterangan yang telah didukung bukti sejarah dengan penuturan yang berkembang dalam ingatan masyarakat. Keduanya penting, tetapi memiliki kedudukan yang berbeda dalam penelitian ilmiah.
Dari Salabose, perjalanan sejarah dapat dilanjutkan dengan membaca peranan para masyayikh pada masa yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang. Nama Prof. KH Sahabuddin dan KH Muhammad Syibli Sahabuddin merupakan bagian dari tokoh yang patut mendapat perhatian dalam upaya mendokumentasikan tradisi keilmuan Islam Mandar. Riwayat pendidikan, pengajaran, jaringan murid, serta pengabdian keduanya perlu ditelusuri melalui arsip keluarga, kesaksian murid, dan dokumen lembaga pendidikan agar kontribusinya dapat diperkenalkan secara lebih utuh.
Dalam masyarakat Mandar, kedudukan seorang annangguru tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu agama. Ia juga diukur melalui keteladanan, kemampuan membimbing umat, serta pengaruhnya terhadap pembentukan karakter masyarakat. Penghormatan kepada ulama merupakan bentuk pengakuan terhadap jasa pendidikan dan pengabdian yang berlangsung selama bertahun-tahun. Karena itu, penulisan biografi masyayikh seharusnya tidak berhenti pada daftar gelar, silsilah keluarga, atau cerita karamah, tetapi juga mengungkap gagasan dan warisan intelektual yang mereka tinggalkan.
Jejak keilmuan Islam Mandar juga dapat ditelusuri melalui tokoh Dr. Nawawi Yahya yang berkaitan dengan kawasan Karama–Tinambung. Kehadirannya dalam ingatan masyarakat membuka ruang penelitian mengenai hubungan antara pendidikan agama, jaringan ulama, dan perkembangan pemikiran Islam di wilayah Mandar. Kajian terhadap tokoh seperti ini memerlukan penelusuran karya tulis, riwayat pendidikan, aktivitas pengajaran, serta hubungan intelektual dengan ulama sezamannya. Tanpa dokumentasi tersebut, sebagian besar kontribusi keilmuan berisiko hanya bertahan dalam cerita keluarga dan masyarakat sekitar.
Saya melihat bahwa berbagai peninggalan tersebut dapat dipahami melalui pendekatan ekologi keilmuan Islam Mandar, yakni hubungan yang saling memengaruhi antara kerajaan, ulama, masjid, lembaga pendidikan, dan tradisi masyarakat. Kerajaan menyediakan ruang sosial dan politik bagi perkembangan agama, ulama membangun otoritas keilmuan, sedangkan masjid menjadi pusat penyebaran pengetahuan. Tradisi keagamaan kemudian membantu masyarakat mempertahankan nilai-nilai tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pendekatan ini memungkinkan sejarah Islam Majene dipahami secara lebih luas. Banggae memperlihatkan hubungan agama dengan kekuasaan, Salabose menghadirkan jejak awal pembentukan komunitas Muslim, sementara para masyayikh menunjukkan keberlanjutan pendidikan dan pembinaan umat. Hubungan antarelemen tersebut merupakan kekayaan sejarah yang layak dikaji secara sistematis, bukan sekadar dipisahkan menjadi cerita mengenai tokoh atau tempat tertentu.
Kegiatan ziarah ulama juga dapat menjadi sarana pendidikan sejarah yang dekat dengan masyarakat. Ketika seseorang mengunjungi makam raja-raja Banggae, Masjid Kuno Salabose, atau makam para masyayikh, terdapat kesempatan untuk memahami bagaimana Islam berkembang dan membentuk kehidupan masyarakat Mandar. Ziarah tidak hanya menghadirkan pengalaman spiritual, tetapi juga membuka ruang pembelajaran tentang keteladanan, pengabdian, dan pentingnya menjaga warisan keilmuan.
Momentum ziarah masyayikh PCNU Kota Parepare ke Tanah Mandar dalam rangka Hari Santri 2026 dapat menjadi contoh bagaimana perjalanan keagamaan dipadukan dengan penguatan kesadaran sejarah. Setiap destinasi dapat diperkenalkan melalui kisah yang bersumber dari penelitian, peninggalan sejarah, dan kesaksian masyarakat. Dengan cara demikian, perjalanan tidak berhenti pada kunjungan seremonial, tetapi menjadi kesempatan mempertemukan generasi sekarang dengan nilai perjuangan para pendahulu.
Majene memiliki kekayaan sejarah Islam yang masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. Manuskrip keluarga ulama, silsilah guru dan murid, peninggalan masjid tua, serta arsip kerajaan perlu dihimpun dan dipelajari secara berkelanjutan. Perguruan tinggi, pemerintah daerah, pesantren, dan organisasi keagamaan dapat mengambil peran bersama dalam mendokumentasikan peninggalan tersebut.
Banggae mengajarkan pentingnya memahami sejarah kekuasaan, Salabose memperlihatkan akar perkembangan Islam, sedangkan para masyayikh mewariskan keteladanan dan tradisi keilmuan. Ketiganya membentuk rangkaian sejarah yang memperlihatkan bahwa Islam di Majene tumbuh bukan hanya melalui peristiwa besar, melainkan melalui pengabdian panjang para ulama dan masyarakat yang menjaga ajarannya.
Warisan itu patut terus dipelajari agar generasi Mandar tidak sekadar mengenal nama tokoh dan tempat bersejarah, tetapi juga memahami ilmu, nilai, dan perjuangan yang menjadikan daerahnya sebagai salah satu pusat penting perkembangan Islam di pesisir barat Sulawesi.
