Gaya Hidup FOMO: Mengapa Generasi Z Sulit Menabung?

image 11 agu 2026, 10.37.09

Fenomena Fear of Missing Out atau FOMO kini telah bergeser dari sekadar gangguan psikologis minor menjadi motor penggerak utama dalam roda ekonomi generasi muda, khususnya Generasi Z. Di era di mana kehidupan seseorang dikurasi secara estetis melalui layar gawai, ketakutan akan tertinggal dari tren sosial telah menciptakan standar pengeluaran baru yang tidak rasional. Mulai dari kewajiban mendatangi konser musisi internasional, berburu menu kuliner yang sedang viral, hingga mengganti gawai setiap kali ada peluncuran seri terbaru. Akibatnya, timbul sebuah paradoks besar di tengah masyarakat: Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling melek literasi digital dan keuangan, namun di sisi lain menjadi kelompok yang paling kepayahan dalam membangun fondasi tabungan mereka sendiri. [1]

Akar masalah dari sulitnya Generasi Z menabung sejatinya bukan terletak pada ketidakpahaman mereka tentang angka, melainkan pada rapuhnya benteng psikologis mereka terhadap agresi pemasaran digital. Algoritma media sosial dirancang secara masif untuk terus-menerus memborbardir penggunanya dengan gaya hidup idealitas semu. Ketika paparan tersebut diterima setiap hari secara konsisten, batas antara kebutuhan esensial (needs) dan keinginan impulsif (wants) menjadi sepenuhnya kabur. Membeli segelas kopi susu premium seharga puluhan ribu rupiah setiap hari atau membeli pakaian demi kebutuhan konten tidak lagi dipandang sebagai pemborosan, melainkan dianggap sebagai biaya wajib untuk membeli validasi sosial dan rasa “aman” agar tetap diakui dalam lingkaran pergaulan.

Dampak jangka panjang dari normalisasi gaya hidup FOMO ini mulai mengancam ketahanan finansial masa depan Generasi Z dalam skala yang mengkhawatirkan. Dengan habisnya pendapatan bulanan untuk membiayai pengeluaran konsumtif yang berumur pendek, generasi ini kehilangan momentum emas untuk memanfaatkan efek bunga berbunga (compound interest) lewat investasi sejak dini. Lebih buruk lagi, ketiadaan dana darurat (emergency fund) membuat mereka menjadi kelompok yang paling rentan jatuh ke dalam perangkap utang digital seperti paylater dan pinjaman online saat dihadapkan pada situasi kritis. Tren ini berisiko melahirkan sebuah fenomena sosiologis baru, yaitu sebuah generasi produktif yang tampak makmur dan estetik di media sosial, namun rapuh dan mengalami kemiskinan struktural di dunia nyata.

Memutus rantai jebakan psikologis ini menuntut adanya revolusi kesadaran personal yang radikal di kalangan Generasi Z. Ruang-ruang edukasi keuangan tidak boleh lagi hanya sibuk mengajarkan cara berinvestasi di pasar saham atau kripto, melainkan harus kembali pada pembenahan perilaku dasar ekonomi, seperti metode alokasi anggaran yang ketat dan pentingnya menabung di awal bulan sebelum berbelanja. Generasi Z harus mulai melatih kedewasaan mental untuk mengubah gaya hidup FOMO menjadi JOMO (Joy of Missing Out)—sebuah seni menemukan kebahagiaan dalam ketertinggalan tren demi mengamankan kedamaian finansial masa depan. Menabung bukanlah tentang mengekang kebebasan menikmati hidup hari ini, melainkan tentang membeli kemerdekaan dan kepastian hidup di masa depan agar tidak didikte oleh utang dan kecemasan finansial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *