Di tengah gemuruh digitalisasi dan klaim bahwa kita sedang hidup di puncak era modernitas, sebuah fenomena menggelitik justru mencuat ke permukaan: tren “cek khodam” secara daring. Melalui siaran langsung di berbagai platform media sosial, jutaan netizen rela mengantre dan membayar demi mengetahui sosok spiritual atau makhluk halus yang dianggap mendampingi tubuh mereka. Lucunya, hasil terawangan instan yang acap kali tidak masuk akal—seperti khodam macan putih hingga benda mati—disambut dengan antusiasme yang tinggi. Realitas ini menjadi sebuah ironi besar bagi masyarakat yang mengklaim diri melek teknologi, namun ternyata masih rentan terjebak dalam pusaran mistisisme instan. [1]
Fenomena ini sejatinya menjadi alarm keras atas kian pudarnya batas logika dan nalar kritis di tengah masyarakat modern. Teknologi digital yang dirancang sebagai sarana penyebaran ilmu pengetahuan, kini justru beralih fungsi menjadi panggung mistisisme gaya baru. Keberadaan algoritma media sosial yang mengamplifikasi hal-hal viral memperparah kondisi ini, dengan mengubah praktik klenik yang dahulu dianggap tabu menjadi sebuah komoditas hiburan yang dianggap lumrah. Ketika sains dan rasionalitas dikesampingkan demi kepuasan penasaran yang semu, masyarakat kita sebenarnya sedang mengalami kemunduran cara berpikir yang cukup memprihatinkan.
Jika dibedah lebih dalam dari kacamata psikologi sosial, maraknya tren cek khodam ini mencerminkan adanya ruang kosong dalam jiwa manusia modern. Di balik layar gawai yang serba canggih, ada kecemasan massal, krisis identitas, dan kebutuhan akut akan validasi instan mengenai masa depan atau potensi diri mereka. Sayangnya, alih-alih menyelesaikan masalah hidup secara rasional atau mendekatkan diri pada spiritualitas yang murni, banyak orang justru memilih jalan pintas lewat ramalan digital. Pola perilaku seperti ini sangat berbahaya karena pelan-pelan mengikis kemandirian berpikir dan membuat masyarakat menjadi pribadi yang fatalistik serta mudah dimanipulasi oleh takhayul modern.
Pada akhirnya, tren cek khodam digital ini bukan sekadar lelucon atau hiburan pengisi waktu luang di internet, melainkan sebuah refleksi dari rapuhnya fondasi literasi kita. Tantangan terbesar bangsa ini di era digital bukan lagi soal keterbatasan akses informasi, melainkan ketidakmampuan masyarakat dalam menyaring antara data ilmiah dan khayalan irasional. Untuk menghentikan pembodohan massal berkedok tren ini, edukasi nalar kritis harus diperkuat sejak dini di lingkungan keluarga maupun sekolah. Kita harus sadar bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh kerja keras, integritas, dan keputusan logis yang mereka ambil hari ini, bukan oleh jenis khodam gaib yang disebutkan oleh orang asing di layar gawai.
