Oleh: Dr. H. Abdillah, Lc., M.H.I.
Dosen IAIN Parepare | Tim El Haq Global
Sejarah Islam di Nusantara tidak hanya ditulis melalui perjalanan kerajaan besar, tetapi juga melalui pengabdian para ulama yang hidup di tengah masyarakat. Mereka mengajarkan agama, membangun pendidikan, menjaga tradisi, dan mewariskan nilai-nilai kehidupan. Sebagian nama mereka tercatat dalam buku sejarah, sementara sebagian lainnya tetap hidup melalui ingatan masyarakat, makam tua, masjid, dan tradisi keagamaan yang diwariskan lintas generasi.
Tanah Mandar merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan sejarah tersebut. Dari Majene hingga Polewali Mandar, terdapat jejak panjang perjalanan Islam yang memperlihatkan hubungan antara ulama, kerajaan, pendidikan, dan kebudayaan masyarakat.
Momentum Hari Santri Nasional 2026 menjadi kesempatan bagi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Parepare untuk menelusuri kembali warisan tersebut melalui kegiatan Touring Ziarah Masyayikh dan Silaturahmi Nahdliyin Tanah Mandar, pada 24–25 Oktober 2026.
Perjalanan ini bukan sekadar touring menggunakan sepeda motor atau mengunjungi makam para ulama. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ikhtiar merawat ingatan sejarah sekaligus mengingatkan generasi sekarang bahwa Islam yang kita nikmati hari ini merupakan hasil perjuangan panjang para pendahulu.
Mandar dan Jejak Awal Peradaban Islam
Dalam sejarahnya, Mandar dikenal sebagai kawasan yang memiliki hubungan erat antara kehidupan kerajaan, perdagangan maritim, dan perkembangan agama Islam. Persekutuan kerajaan Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu menjadi bagian penting dalam perjalanan sosial politik masyarakat Mandar.
Islam kemudian berkembang melalui perjumpaan para pendakwah dengan masyarakat dan penguasa lokal. Proses ini tidak berlangsung secara sederhana, melainkan melalui hubungan sosial, pendidikan, dan penyesuaian dengan kebudayaan setempat.
Penelitian Abd. Shadiq Kawu (2011) mengenai sejarah masuknya Islam di Majene memperlihatkan pentingnya peranan Syekh Abdul Mannan dalam perkembangan Islam di Banggae. Sementara itu, penelitian Hannani dan kawan-kawan (2022) menunjukkan bahwa Pambusuang dan Campalagian menjadi bagian penting dari tradisi intelektual ulama Mandar.
Dua temuan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan Islam di Mandar tidak hanya berkaitan dengan perubahan keyakinan masyarakat, tetapi juga melahirkan tradisi pendidikan dan kelembagaan keagamaan.
Jejak tersebut dapat kita saksikan melalui sejumlah destinasi ziarah yang menjadi tujuan perjalanan PCNU Kota Parepare.
Di Lembang, Majene, rombongan dijadwalkan menziarahi makam Prof. KH Sahabuddin dan KH Muhammad Syibli Sahabuddin. Kunjungan ini menjadi pengingat tentang pentingnya kesinambungan ilmu dan pengabdian antargenerasi.
Perjalanan dilanjutkan menuju kompleks makam Raja-Raja Banggae. Situs ini memperlihatkan bahwa sejarah Islam Mandar juga mempunyai hubungan dengan struktur kekuasaan tradisional. Penelitian arkeologi terhadap kompleks makam Banggae bahkan mencatat ratusan makam yang menjadi bagian dari peninggalan sejarah kawasan tersebut.
Di Salabose, terdapat jejak Syekh Abdul Mannan yang dikenal dalam tradisi sejarah sebagai salah seorang tokoh penting penyebaran Islam di Banggae. Kehadiran beliau mengingatkan kita bahwa dakwah membutuhkan ilmu, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami kehidupan masyarakat.
Perjalanan kemudian menuju Karama, Tinambung, untuk mengenang Dr. Nawawi Yahya, serta Pambusuang untuk menziarahi Annangguru Muhammad Saleh. Pambusuang sendiri dikenal sebagai salah satu pusat tradisi pengajian dan keilmuan Islam di Mandar.
Di Campalagian, rombongan akan menziarahi KH Muhammad Tahir atau Imam Lapeo, salah seorang ulama yang sangat dihormati masyarakat Mandar. Perjalanan juga mencakup jejak Annangguru Muhammad Tahir dalam tradisi Tarekat Khalwatiyah Samman, sebelum mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kenje.
Ziarah kemudian berlanjut ke Tosalama, Binuang, untuk mengenang Syekh Abdurrahim Kamaluddin yang dikenal dalam tradisi sejarah penyebaran Islam di wilayah Mandar.
Setiap tempat mempunyai sejarah yang berbeda, tetapi semuanya memperlihatkan satu kesamaan: Islam berkembang melalui pengabdian panjang para ulama yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ziarah Bukan Sekadar Mengenang Masa Lalu
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ziarah memiliki kedudukan sebagai sarana mendoakan orang yang telah wafat, mengingat kematian, serta mengambil pelajaran dari kehidupan para pendahulu.
Namun, saya memandang ziarah juga perlu dikembangkan sebagai ruang pendidikan sejarah.
Kita sering mengenal nama seorang ulama, tetapi tidak mengetahui perjalanan keilmuannya. Kita mengunjungi makamnya, tetapi belum tentu memahami pemikiran dan pengabdiannya. Bahkan, tidak sedikit sejarah lokal yang hanya diwariskan melalui cerita lisan tanpa dokumentasi yang memadai.
Padahal, apabila warisan tersebut tidak diteliti dan ditulis, generasi mendatang berisiko kehilangan salah satu sumber penting untuk memahami identitas keagamaannya.
Sebagai orang Mandar yang mengabdikan diri dalam dunia pendidikan Islam, saya melihat keadaan ini sebagai tanggung jawab bersama. Sejarah ulama Mandar perlu memperoleh perhatian yang lebih serius dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi keagamaan, dan masyarakat.
Penelitian biografi ulama, dokumentasi manuskrip, pemetaan situs bersejarah, hingga penulisan sejarah pendidikan Islam lokal merupakan pekerjaan yang perlu terus dikembangkan.
Kita tidak boleh hanya bangga memiliki banyak ulama besar, tetapi justru membiarkan warisan pemikiran mereka perlahan terlupakan.
Merawat Tradisi, Membangun Masa Depan
Hari Santri semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum ini perlu menjadi pengingat bahwa perjuangan ulama dan santri harus dilanjutkan melalui pendidikan, pengabdian, dan pembangunan masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, generasi muda membutuhkan akar sejarah yang kuat. Kemajuan tidak seharusnya membuat kita kehilangan hubungan dengan warisan keilmuan para pendahulu.
Karena itu, kegiatan touring ziarah PCNU Kota Parepare mempunyai makna yang lebih luas daripada perjalanan dua hari. Ia menjadi sarana memperkuat silaturahmi, mengenalkan sejarah Islam lokal, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan peradaban.
Saya berharap kegiatan seperti ini dapat dikembangkan menjadi gerakan literasi sejarah yang berkelanjutan. Setiap perjalanan hendaknya melahirkan dokumentasi, setiap kunjungan menghasilkan pengetahuan, dan setiap perjumpaan dengan sejarah menghadirkan pelajaran bagi kehidupan.
Sebab, menghormati ulama bukan hanya dengan mengunjungi makam mereka, tetapi juga dengan melanjutkan perjuangan ilmu, akhlak, dan pengabdian yang telah mereka wariskan.
Jangan sampai para ulama hanya hidup dalam nama jalan, cerita turun-temurun, dan batu nisan, sementara pemikiran serta keteladanan mereka semakin jauh dari kehidupan generasi penerus.
Akhirnya, perjalanan menuju Tanah Mandar ini sesungguhnya bukan hanya perjalanan menziarahi para ulama. Ia adalah perjalanan untuk mengenali kembali akar sejarah kita sendiri.
Kita berangkat membawa doa dan penghormatan. Semoga kita kembali membawa pengetahuan, keteladanan, dan tanggung jawab untuk melanjutkan pengabdian mereka.
Karena sejarah yang paling berharga bukan sekadar sejarah yang dikenang, melainkan sejarah yang mampu memberikan arah bagi masa depan.
Wallahu a’lam bish-shawab.
