Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat sumber daya manusia, pengetahuan, laboratorium, pusat penelitian, dan jaringan akademik yang seharusnya dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan publik.Namun, hubungan antara kampus dan masyarakat terkadang masih bersifat seremonial. Pengabdian masyarakat dilakukan sebagai kewajiban administratif, sementara hasil penelitian tidak selalu sampai kepada masyarakat yang menjadi objek penelitian. Kondisi seperti ini perlu dievaluasi.Penelitian akademik seharusnya memiliki keterhubungan dengan persoalan nyata. Kemiskinan, pendidikan, ketimpangan, perkawinan anak, lingkungan, hukum, ekonomi keluarga, transformasi digital, dan persoalan sosial lainnya membutuhkan pendekatan ilmiah yang serius.Mahasiswa juga perlu dilibatkan dalam proses tersebut. Kampus dapat mengembangkan pembelajaran berbasis masalah, penelitian komunitas, proyek sosial, dan pengabdian yang berkelanjutan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi memahami bagaimana teori berhadapan dengan realitas.Kolaborasi juga perlu diperluas. Pemerintah daerah, lembaga masyarakat, dunia usaha, organisasi keagamaan, komunitas, dan perguruan tinggi dapat bekerja sama dalam menghasilkan solusi. Persoalan sosial yang kompleks tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja.Kampus harus berani bertanya kepada dirinya sendiri: sejauh mana pengetahuan yang diproduksi memberikan manfaat? Pertanyaan tersebut penting karena reputasi akademik bukan hanya dibangun melalui jumlah publikasi, tetapi juga melalui dampak pengetahuan terhadap kehidupan masyarakat.Jika perguruan tinggi mampu membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat, maka kampus tidak lagi dipandang sebagai institusi yang jauh dari realitas. Kampus dapat menjadi pusat produksi pengetahuan sekaligus pusat penyelesaian masalah sosial.
