Perkembangan media digital memberikan akses pengetahuan yang sangat luas. Ironisnya, kemudahan akses tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya budaya membaca. Banyak mahasiswa terbiasa membaca informasi pendek, tetapi kurang terbiasa membaca buku, artikel ilmiah, atau karya akademik secara utuh.Budaya membaca membutuhkan ketekunan. Membaca karya ilmiah menuntut konsentrasi, kesabaran, dan kemampuan memahami argumentasi. Sementara itu, media digital cenderung mendorong konsumsi informasi secara cepat dan berpindah-pindah.Perguruan tinggi harus menciptakan ekosistem yang mendorong mahasiswa kembali mencintai bacaan. Perpustakaan perlu menjadi ruang intelektual yang hidup, bukan sekadar tempat menyimpan koleksi. Dosen juga dapat membangun tradisi membaca melalui diskusi buku, critical review, dan pembelajaran berbasis literatur.Membaca bukan aktivitas kuno. Justru di tengah ledakan informasi, kemampuan membaca secara mendalam menjadi semakin penting.
Mahasiswa dan Budaya Membaca yang Semakin Terpinggirkan
